III
17
KEPUTUSAN SIRA
SANGHYANG UNDAGI
Nihan palakwaning keputusan ira Sanghyang Undagi, wenang sira umungguha ring bwana sarira, apatra Padma sira ring madhyaning ANG, wenang sira angamet saraja karya kabeh, tan pasadhana tarpana suksma.
Inilah cara melaksanakan keputusan Sanghyang Undagi, berhak bagi mereka yang tahu menempatkan di dalam dirinya bersurat (merajah) padma di dalamnya bertuliskan huruf sakti ANG (
), mereka boleh mengambil segala pekerjaan, walaupun tidak disertai dengan upacara penycian.
18
KAPUTUSAN SIRA
SANGHYANG UNDAGI
Yan tan kita wruh ring kawitan mwang lungguh ira Sanghyang, tan wenang kita angarepana smara karya, ila estu halania, sinapa d3en ira Sanghyang Undagi, tan sidha linukatan, den ira Brahmana Siwa Sogatha, kang wenang amrascita, sira Sanghyang Aji Wiswakarma juga, dening kaputusaning adnyana wisesanira, wenang saha shadana, tarpana suksma, kwala ginelar dening kaputusaning yasa brata, tapa, sira.
Andaikan anda tidak mengetahui tentang asal mula dan sthana Sanghyang Undagi, tidak berhak anda melakanaan pekerjaan, terkena bahaya kutukan halangannya, dinodai oleh Sanghyang Undagi, tidak dapat diruwat, baik oleh Pendeta Siwa maupun Pendeta Budha, yang berhak meruwat, hanyalah beliau Sang Aji Wiswakarma, karena kesucian daripada Adnyana dan kemaha wisesaan-Nyalah yang menyebabkan, maka hendaklah memoho kepada-Nya disertai dengan penyelesaian upacara widhi widana penyucian, namun agar diatur menurut keputusan yasa, brata dan tapa Sanghyang Aji Wiswakarma.
19
Kaputusan sira
Sanghyang undagi
Yapwan kita amalakwa kadharma ira Sanghyang Undagi, wenang pwa kita wruh ring pawetan mwang kahanan ira Sanghyang ring bwana sariranta tepet, den asila patarana ring madyan ikang kumuda, ya ring madyaning ANG.
Namun kalau anda akan melakukan kewajiban Sanghyang Undagi, anda harus mengetahui (secara membatin), azas dan keadaan dari Sanghyang Undagi di dalam diri anda secara tepat, supaya duduk bersila I tengah-tengah Padma, yakni de3ngan hiruf sakti ANG.
20
KAPUTUSAN SIRA
SANGHYANG UNDAGI
Sangke irika ta kita umastwa sira, saha sadhana tarpana sari-sari mangen-angen sira Aji, wenang kita melaku ngarepana saraja karya kabeh, sira lingga umungguh ring bwana sarira, maka ngaran Sas, saraja karya kabeh, pinget maka dharma ira Sanghyang Undagi, yan tan mangkana ila-ila phalania.
Dari sanalah anda memuja Beliau, disertaiupacara/upakara sewaktu memusatkan pikiran kepada Sanghyang Undagi, maka anda mampu melakukan semua segala pekerjaan anda, karena Beliau menjadi tanda bersemaym dalam diri anda, dan pada keadaan demikian Beliau bersama Sas (jiwa, taksu), semua dari segaa pekerjaan, juga merupakan simbul kekuatan dari orang yang melakukan kewajiban ke-undagi-an, kalau tidak demikian akan menemui halangan.
21
YASA, BRATA, TAPA
Mwah yan pawatana, watara lugraning Hyang, yadyapin tan asasana aksara, twi idep, utama dahat ika, nanging den pageh juga amalakwaken, katepat ing wara lugraha ika, haywa karo-karo ring yasa, brata, tapa apan lewih temen ngarania mangkana.
Lagi pula kalau memang menjadi pembawaan, atau barang kali ada juga karena berkah Hyang walaupun tidak berpegang kepada huruf, juga tidak karena kecerdasan pikiran, sangat utama yang demikian, tetapi supaya kuat iman didalam melakukannya, menepati petunjuk berkah-berkah itu jangan ragu-ragu meningkatkan yasa, brata dan tapa, sebab orang yang menaati, sangat mulia namanya yang demikian.
22
GINUMEN IKANG WARA
Yan tan pageh ing warah ika, ila dahat kojarania, tan paguna ikang dadi, mwah tan yogya ginunemaken ikang wara, lawan wan glen sangke sesamening waralugrahaning mangkana juga.
Kalau tidak kuat iman terhadap berkah itu, amat berbahaya disebutkan, tiada bermanfaat hidup menjadi manusia, dan lagi tidak wajar memusyawarahkan tentang hari(padewasan) itu, terhadap orang yang lain dari sesame kesiswaan.
23
DHARMA TAN SADHU ADHYATMIKA
Yan kita wruh ring kadharmaning rasa tatwa suksma, twi kaputusania, yan tan sangkeng anawita, yasa, brata, tapa tan patut gunaning linakkwan tan sidaning dadi ika, dharma tan sadhu adyatmika, tan acinta ngarania.
Apabila anda tahu tentang dasar, tentang hakikat rasa, tentang kesucian, demikian pula tentang ilmu kesempurnaan, kalau tidak didasari dengan pengabdian jasa, kesetiaan dan ketahanan, juga tidak benar melaksanaan kekaryaan itu, sebab tidak dapat mencapai tujuan kemanusiaan yang demikian, dasar yang tidak mengandung kesucian kejiwaan (spiritual), tidak suci namanya
>> 17 s/d 23
Bagi mereka (Undagi) dibolehkan tidak disertai upacara penyuian (widhi widana), manakala mereka tidak bisa menempatkan dan menghidupkan huruf sakti pada dirinya, yang tersurat Padma bertuliskan ANG. Bagi mereka yangbelum bisa, diajarkan agar disertai dengan widhi widana penyucian menurut yasa, brata dan tapa Sanghyang Aji Wiswakarma, dengan hrapan mendapat hikmah atau ketaksuan dari Sanghyang Undagi. Kalau karena bakat, kecerdasan, dank arena berkah dari Sang Hyng Widhi, maka orangbisa melaksanakan ke-undagi-an, boleh tidak berpegang dengan huruf, tetapi mereka agar kuat iman dan mentaati berkah itu, inipun mulia. Kalau iman lelah, amat berbahaya, karena melanggarkesucia.